Pengentasan kemiskinan di Indonesia bukan merupakan hal baru
lagi, Sejak Tahun 1990an konsep pemberdayaan yang ditujukan untuk pengembangan
kapasitas masyarakat miskin di kota maupun di desa semakin giat di galakan.
Tanggung jawab pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia sepertinya
terlihat akan berjalan sesuai dengan keinginan pemerintah dalam meningkatkan
kapasitas masyarakat yang lebih berdaya dan mandiri. Harus diakui Negara kita
memang terlambat dalam melakukan pengembangan kapasitas masyarakatnya.
Harus diakui pula bahwa sejak dahulu kita di hidangkan oleh situasi yang aman, nyaman dan
terkendali. Namun kenyamanan yang di berikan berkembang tidak seiring dengan
peningkatan kemampuan manajemen perekonomian masyarakat miskin. Disisi lain tingkat
korupsi meningkat tajam hingga tembus angka tiga besar dunia mengakibatkan
bangsa ini mengalami keterpurukan. Mimpi
masyarakat kecil untuk keluar dari jurang kemiskinanpun terhambat oleh
kebobrokan mental para petinggi dan pejabat Negara. Kehidupan kota pun berubah
menjadi extrem setelah reformasi
dikumandangkan, masing-masing
memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Yang kaya menjadi
semakin Kaya dan yang miskin menjadi lebih melarat. Sementara masyarakat
perdesaan hanya mampu menjadi penonton dan belajar sendiri dari tingkah laku
dan peradaban masyarakat perkotaan. Masyarakat
miskin pun semakin tertekan dengan tuntutan biaya hidup yang semakin tinggi.
Di tengah beban hidup yang semakin berat peluncuran Program
Pengentasan Kemiskinan bagaikan semangkuk air di padang pasir. Kehadirannya menimbulkan semangat baru di kalangan masyarakat miskin perkotaan
maupun perdesaan. Manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat pemanfaat
(miskin). Keadaan ini terjadi di program PNPM Mandiri Perkotaan yang saat itu
masih Bernama Program Pengentasan Kemiskinan Di Perkotaan (P2KP). P2KP benar2
hadir sebagai jalan Keluar dan membabat
habis dinding kesombongan masyarakat perkotaan. Dasyatnya P2KP bisa membalikkan
tingkat ketidakpedulian masyarakat perkotaan dan cara pandangnya terhadap
persoalan kemiskinan dengan menyentuh hati nurani. Sehingga P2KP dianggap oleh
para pelaku sebaga rohnya program
pemberdayaan. Kenapa demikian? Karena sesungguhnya pengentasan kemiskinan bukan
hanya tanggungjawab pemerintah tapi tanggung jawab setiap orang . Bagaimana
mengentaskan kemiskinan jika tidak ada kepedulian dari si kaya? Bagaimana juga
jika si miskinpun tidak peduli dengan keadaannya? Inilah mengapa penting untuk menyentuh hati
nurani untuk membuat seseorang mampu dan mau melakukan kewajiban moral sehingga
orang tersebut menjadi berdaya. Karena dalam P2KP, ketidakmampuan seseorang baik
si kaya atau si miskin dalam memberi dan menerima adalah ketidak berdayaan. Karenanya pendekatan program atau pendekatan
pemberdayaan lebih diutamakan daripada pendekatan proyek.
Dalam perkembangannya banyaknya program pemberdayaan yang
diluncurkan melahirkan sebuah perubahan yang dirasakan sangat mengganggu
substansi program P2KP seiring dengan berubahnya nama program menjadi Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) Pendekatan yang
digunakan pun berubah dengan lebih mengutamakan pendekatan Proyek. Ini disebabkan
oleh tuntutan pemasukan data secara Nasional yang memiliki target waktu. Sehingga
substansi program pun semakin luntur meski tetap berpegang pada peningkatan
kepedulian untuk saling membantu. Masyarakat miskin pun dipaksakan untuk
menjadi ‘dewasa’ secara instan. Sehingga tak disadari telah mengenyampingkan
pendekatan pemberdayaan yang sesungguhnya.
Disinilah muncul permasalahan baru dimana masyarakat pun
melaksanakan program secara asal-asalan. Kepedulian yang sebelumnya dibangkitkan dengan susah payah
kini perlahan redup kembali karena hanya mementingkan data tentang berapa banyak
pemanfaat dan berapa besar dana yang
terserap dengan target waktu yang mencekik leher. Satu hal yang mungkin
dilupakan bahwa seberapa besar masyarakat miskin yang terserap menjadi pemanfaat dalam program
pengentasan kemiskinan bukanlah sebuah jaminan telah terjadi peningkatan
kemampuan manajemen diri dalam kapasitasnya sebagai manusia yang berdaya dan akan sangat
jauh jika dihubungkan dengan suatu keadaan yang mandiri maupun Madani. Karena untuk
mencapai peningkatan kualitas hidup adalah perubahan paradigma dan perubahan paradigma
adalah proses yang tidak akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Dan sesungguhnya
proses inilah yang dinamakan PEMBERDAYAAN. (by me) (untuk teman2 pejuang pengentasan
Kemiskinan… Tetap Semangat!!!)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan