WELCOME
Jumat, 26 November 2010
Kamis, 28 Oktober 2010
Sekolah Daun TOPESINO TVRI SULTENG
Diposting oleh
EDISSONS.T.M
Keberadaan sekolah daun yang terletak di Dusun Topesino Desa Mantikole Kabupaten Sigi sungguh sangat memprihatinkan. Janganlah bertanya apakah bangunan sekolah ini atapnya bocor atau dindingnya kusam bahkan daun pintunya sudah pada copot dari engselnya sehingga mengundang siapa saja untuk ikut prihatin. Di sekolah daun ini tidak ada bangunan tembok penyekat ruang kelas atau ada halaman sekolah tempat siswa beraktivitas olahraga. Semuanya tidak ada dan memang sekolah ini tidak mempunyai ruang-ruang kelas layaknya sekolah megah di perkotaan besar. Semuanya apa adanya dan alami dengan suasana khas desa terpencil di pedalaman Sulawesi Tengah.
Karena kondisi yang memprihatinkan inilah beberapa waktu lalu TVRI Sulawesi Tengah telah mengadakan liputan ke lokasi sekolah itu dan mempublikasikan lewat tayangan Selamat Pagi Nusantara Jakarta 2 bulan lalu dan tayangan dengan versi sama tetapi tetap mengambil setting lokasi sekolah daun, disiarkan ulang Minggu siang ( 26/09) kemaren dalam Warta Siang. Maksud penayangan tersebut mengingat televisi Sulawesi Tengah sebagai media kontrol sosial, berharap melalui tayangan itu Pemerintah dan Masyarakat Indonesia dapat memberikan bantuan agar proses belajar mengajar di sekolah itu tetap berlangsung.
Setelah melihat tayangan Sekolah Daun beberapa waktu lalu melalui TVRI Sulawesi Tengah, akhirnya Staf Pemerintah Kabupaten Sigi mengunjungi sekolah tersebut dengan menempuh perjalanan cukup berat menuju lokasi yang terletak di atas bukit dengan lembah curam di bawahnya. Letak sekolah memang di tempat terpencil jauh dari hiruk pikuk keramaian kota besar. Seorang pengajar sekolah daun, Indrawati dalam kunjungannya ke Kantor TVRI Sulawesi Tengah kemaren, mengatakan setelah menyaksikan tayangan sekolah daun itu, Pemerintah Kabupaten Sigi berjanji akan memberikan bantuan pada tahun 2010 ini.
Sementara itu Kepala Stasiun TVRI Sulawesi Tengah, Ir. Syafrullah dalam kesempatan ini mengatakan bahwa tujuan penayangan program acara sekolah daun itu agar masyarakat Indonesia dan Pemerintah dapat mengetahui lokasi keberadaan sekolah tersebut. Jika pemerintah Kabupaten Sigi akan memberikan bantuan, masih menurut Syafrullah, agar kondisi bangunan sekolah yang akan didirikan harus sesuai dengan kondisi alamnya. "Jangan sampai ciri khas sekolah daun tersebut menjadi hilang. Bangunan sekolahnya tidak perlu terlalu mewah, tetapi fasilitas sekolah tersebut harus tetap memadai," katanya.
Yang penting dari semua bantuan itu adalah status sekolah daun itu. Agar para siswa yang bersekolah di sekolah daun ini dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi setelah tamat dari sekolah daun, maka status sekolah daun harus jelas lebih dulu. Selain bantuan fisik fasilitas berdirinya sekolah daun itu yang memadai, Ir. Syafrullah berharap pihak Pemerintah Sigi dapat memberikan training kepada para guru yang mengajar di sekolah daun tersebut.
Sumber : Lensa Publik TVRI Sulawesi Tengah ( 25/09 ). Foto by katulutu.blogspot.com
Selasa, 26 Oktober 2010
PARIWISATA KEPULAUAN SANGIHE, SEBUAH 'deja vu'
Diposting oleh
EDISSONS.T.M
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) nomor tiga terbesar di dunia. Kekayaan alam yang melimpah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber plasma nutfah/genetik dan atau sebagai areal wisata. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian pun semakin besar dengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang sesuai. Hal ini tercemin pada berbagai teknologi pertanian lokal yang berkembang di masyarakat dengan menyesuaikannya dengan tipologi lahan. Keunikan - keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik bangsa lain untuk berkunjung/berwisata ke Indonesia.
Berbicara pariwisata tentu angan kita langsung melayang ke pulau dewata Bali dengan keindahan alam dan adat istiadatnya, Bunaken dengan keindahan taman lautnya ataupun kepulauan Hawai dengan keindahan pantai dan fasilitasnya, dengan kata lain tidak ada konsep pengembangan pariwisata yang tidak mengandalkan keindahan alam dan karakteristik ataupun spesies endemik dari suatu wilayah. Namun seringkali kita terjebak dengan pesona alam tanpa berpikir untuk bagaimana mengembangkan konsep manajerial pariwisata itu sendiri. Bahkan gambaran tentang keindahan alam disebarkan melalui media massa maupun dunia maya dengan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit jumlahnya dengan satu kata yang sangat lazim didengar “Promosi”. Bentuk promosi yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung bahkan sampai mengirimkan duta kesenian atau duta wisata ataupun tim studi banding ke luar negeri. Namun sangat disayangkan sekali lagi promosi yang dilakukan tanpa membangun manajemen pariwisata yang ideal, sehingga semua usaha yang dilakukan berakhir dengan satu kata yaitu “Mubazir”.
Kita tentunya tidak ingin membangun angan yang muluk diatas penderitaan rakyat, sehingga harus disadari bahwa membangun pariwisata tidak semudah membalik telapak tangan. Promosi dengan biaya yang besar tidak akan menghasilkan keuntungan yang besar jika tidak mengubah landasan berpikir tentang pengembangan pariwisata dengan mengedepankan kepentingan rakyat. Ketidak pedulian masyarakat sering menjadi alasan dari gagalnya suatu investasi pariwisata padahal berbagai studi banding dilakukan hanya untuk mengkaji sebuah keberhasilan pengembangan pariwisata tanpa medalami faktor penyebab dari sebuah kegagalan dalam pengembangan industri pariwisata. Banyak yang mencontohkan bali ataupun Hawai dengan segudang keberhasilannya tanpa mengetahui bahwa daerah tersebut telah juga menuai seribu kali kegagalan. Sehingga yang dilakukan bukanlah upaya preventif melainkan kuratif. Ada juga memaparkan hasil studi banding dari daerah yang telah maju industri pariwisatanya dengan kalimat pendek “masyarakat disana telah sadar dalam menjaga kebersihan lingkungannya untuk menunjang pariwisata”. Jika demikian, maka belum perlu melakukan study banding karena masyarakat sangihe sangat mampu untuk melakukannya. Namun kalimat tersebut belum mampu untuk menjawab sebuah pertanyaan penting “mengapa masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga lingkungannya?”. Marilah kita kaji lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan ini.
Kepulauan sangihe memiliki keindahan alam dan adat istiadat yang tidak kalah dengan bali. Keberadaan pasir putih yang mengelilingi pulau besar dan kecil adalah sebuah daya tarik yang potensial bagi industri pariwisata yang ditunjang dengan keindahan bawah laut serta keberadaan spesies endemik seperti tarsius spectra dan species yang lainnya. Namun mustahil mengembangkan pariwisata tanpa melalui suatu pengkajian yang mendalam tentang faktor penunjang industri pariwisata. Untuk mengkaji hal tersebut dibutuhkan pertama keterlibatan institusi perguruan tinggi sebagai lembaga yang sangat berkompeten melaksanakan suatu penelitian dan pengkajian tentang potensi suatu wilayah daratan maupun lautan. Sehingga dari penngkajian tersebut melahirkan rekomendasi tentang layak tidaknya pengembangan industri pariwisata di suatu kawasan. Kedua Pentingnya penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah termasuk dengan penetapan Spot Diving di di lokasi yang memiliki karakteristik yang spesifik ataupun Kawasan Konservasi Hutan Daerah dan Hutan Wisata serta Penguatan agribisnis di sentra produksi pertanian daerah sebagai upaya untuk menunjang ekowisata dan agrowisata yang tentunya juga harus melibatkan unsur Perguruan Tinggi dan LSM dalam pengkajiannya. Ketiga adalah sangat penting dalam membangun pariwisata menggunakan konsep Pariwisata Inti Rakyat yaitu pariwisata dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, karena disadari bahwa keanekaragaman budaya dan adat istiadat di sangihe adalah milik masyarakat sangihe sehingga pengembangannya haruslah melibatkan masyarakat sebagai ujung tombak dalam pengembangan dan pengelolaan Industri pariwisata.
Ekowisata dan Agrowisata
Dari pengertian tersebut diatas maka sudah selayaknyalah pengembangan pariwisata Kepulauan Sangihe harus dimulai dari lapisan paling bawah yaitu masyarakat yang adalah pelaku utama diajak untuk terlibat dalam perencanaan pengembangan industri pariwisata. Memang disadari membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai masyarakat ideal yang menunjang pariwisata terutama dalam meningkatkan SDM masyarakat, namun dengan pola pendidikan terpadu yang melibatkan sinergitas instansi terkait niacaya harapan akan tercapai. Sehingga kehadiran industri pariwisata benar-benar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan masyarakat merasakan manfaat dari pengembangan industri pariwisata yang sedang dikembangkan. Jika demikian maka masyarakat akan mau dan mampu menjaga kelestarian lingkungannya secara sadar dan mandiri serta dapat menjamin keamanan bagi para wisatawan.
Konsep pengembangan home stay sebagai fasilitas penunjang dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat memiliki peranan yang sangat penting. Home stay yang dimaksud disini adalah dengan menjadikan rumah penduduk sebagai tempat persinggahan wisatawan lokal maupun manca negara. Masing-masing rumah penduduk menyediakan satu buah kamar yang layak sebagai penginapan bagi para wisatawan yang datang, tentunya dengan harga yang sangat terjangkau bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Dengan konsep seperti ini diharapkan wisatawan yang berkunjung akan lebih mengenal dengan baik tempat-tempat yang dikunjunginya.

Dalam pelaksanaan pariwisata berbasis masyarakat Pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator dalam menunjang segala kebutuhan terutama dalam jalinan kerja sama antara masyarakat sebagai pelaku utama dengan pelaku usaha pariwisata, termasuk melakukan studi tentang dan penetapan tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) dan Kawasan Konservasi Hutan Daerah(KKHD) serta melakukan pengawasan terhadap kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Belajar dari pengalaman dan contoh kasus kegagalan pengembangan pariwisata sebelumnya yang terjadi di beberapa tempat dimana masyarakat tidak dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan bahkan tidak mendapatkan manfaat dari pengembangan industri pariwisata yang mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan, maka hal ini haruslah disikapi dengan bijaksana oleh pemerintah daerah mengingat meningkatnya pendapatan masyarakat melalui pariwisata juga akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga pada akhirnya pariwisata kepulauan sangihe tidak hanya menjadi “Deja vu”. (edissons)
Langganan:
Komentar (Atom)